> Press Release: Feminists Denounce the World Bank and International Monetary Fund in Traditional Balinese Ritual

Press Release: Feminists Denounce the World Bank and International Monetary Fund in Traditional Balinese Ritual

Bali, Indonesia
14 October 2018

At sunset yesterday, over 50 women’s groups, grassroots communities, farmers and workers groups from across Asia gathered at the Padang Galak Beach in Bali, Indonesia to denounce the World Bank and International Monetary Fund (IMF) in a sacred Balinese ritual named Tolak Bala. During the ritual, women from the communities impacted by World Bank-funded projects and IMF policies warded off evil influences caused by both institutions and invoked prayers and wishes for a better future by symbolically giving traditional offerings to the sea.

Sringatin, Chairperson of the Indonesian Migrant Workers Union said, “For decades World Bank and the International Monetary Fund (IMF) have been facilitating land-grabbing, privatising public services, and imposing unregulated labour market that caused women to lose their land, suffer from unaffordable basic necessities and forced to take up precarious work.”

Womens Groups from Asia Denounce WB IMF in Tolak Bala Ceremony_Photo Credit APWLD

Wardarina, Programme Officer, Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD), Thailand said, ”The World Bank and IMF often ignore the political, social and economic impact their policies have on peoples, especially women who are farmers, migrants, workers, urban poor and indigenous, and take away resources for social protection and services.”

“Our hope is by doing this people will understand the struggles that we as women face and they will stand in solidarity with us as we fight to defend our rights. We hope to raise awareness of our issues and of how the ‘development’ that the World Bank and IMF do is wrong and is not the kind of development that women want,” said Titi Soentoro from Aksi for Gender, Social and Ecological Justice, Indonesia and APWLD member.

The Tolak Bala ceremony will be followed by a Feminist carnival on 14th October where women will present their testimonies of displacement, of land and resource grabbing and restricted access to public services in various forms such as oration, poetry reading, and art performances.

The women’s groups strongly reject neoliberalism advanced by the World Bank and IMF as it has only widened inequality and caused grave violations of women’s human rights. We also urge governments to move towards a just and sustainable economic model of Development Justice, that puts the peoples’ interests and upholds the protection of our rights.

About APWLD

Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD) is a leading network of feminist organisations and grassroots activists in Asia Pacific. Our 235 members represent groups of diverse women from 27 countries in Asia Pacific. Over the past 32 years, APWLD has actively worked towards advancing women’s human rights and Development Justice. We are an independent, non-governmental, non-profit organisation and hold consultative status with the United Nations Economic and Social Council. Facebook: apwld.ngo  Twitter:@apwld, Instagram: apwld_

For any press queries, interviews and further information, please contact

Neha Gupta

neha@apwld.org

+62-813-3702-8069/+66 95-528-2396

Languages: English, Hindi

 

Andita Listyarini

andita@apwld.org

+62-813-1725-4384/+66-826-859 263

Languages: English, Bahasa Indonesia


Siaran Pers: Feminis Mengkritisi Bank Dunia & Dana Moneter Internasional dalam Upacara Khas Bali

Bali, Indonesia
14 Oktober 2018

Sore hari kemarin, sekitar 50 organisasi hak perempuan, organisasi akar rumput, organisasi petani dan buruh dari seluruh Asia berkumpul di Pantai Padang Galak di Bali, Indonesia untuk mengkritisi Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam sebuah upacara khas Bali bernama Upacara Larung.  Selama upacara, para perempuan yang terkena dampak dari proyek pembangunan yang dibiayai Bank Dunia atau didukung oleh IMF, melarungkan hal-hal jahat yang disebabkan oleh kedua lembaga internasional tersebut dan mengucapkan doa dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Hal ini dilakukan dengan secara simbolis memberikan sesajen khas Bali di laut.

Sringatin, Ketua dari Serikat Pekerja Migran Indonesia mengatakan, “Selama berpuluh-puluh tahun Bank Dunia dan IMF memfasilitasi perampasan lahan, memprivatisasi layanan publik dan melemahkan kebijakan perlindungan untuk buruh. Hal ini menyebabkan perempuan kehilangan lahan, menderita dari layanan publik yang sangat mahal, sehingga mereka terpaksa melakukan pekerjaan informal atau bermigrasi ke luar negeri.”

Wardarina, Staf Program dari Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD) berkata, “Bank Dunia dan IMF sering sekali mengabaikan dampak politik, sosial dan ekonomi dari kebijakan-kebijakan mereka terhadap masyarakat, terutama pada perempuan yang bekerja sebagai petani, buruh migran, perempuan miskin dan masyarakat adat.  Kedua lembaga tersebut merampas sumber daya kita yang harusnya menjadi bagian dari perlindungan sosial kita.”

“Harapan kita dengan melakukan upacara ini adalah supaya dunia dapat mengerti perjuangan kita yang sebagai perempuan hadapi setiap saatnya. Kita ingin mengundang semua orang untuk bersatu bersama kita dan melindungi hak-hak kita. Kita ingin memaparkan bahwa proyek ‘pembangunan’ yang dilakukan Bank Dunia dan IMF itu salah dan bukan pembangunan yang perempuan inginkan,” kata Titi Soentoro dari Aksi for Gender, Social and Ecological Justice, Indonesia, yang juga merupakan anggota APWLD.

Upacara Tolak Bala akan diikuti oleh acara Feminist Carnival yang akan dilaksanakan tanggal 14 Oktober, dimana nanti masyarakat perempuan akan memaparkan testimoni mereka soal pengusiran paksa, perampasan tanah, dan minimnya akses untuk layanan publik. Testimoni ini akan dipaparkan dalam berbagai bentuk seperti orasi, pembacaan puisi dan pertunjukkan seni.

Berbagai organisasi hak perempuan menentang keras neoliberalisme yang didorong oleh Bank Dunia dan IMF karena hal ini hanya akan memperburuk jurang ketidaksetaraan kita dan menyebabkan pelanggaran hak perempuan. Kami meminta pemerintah-pemerintah dunia untuk bergerak menuju model ekonomi yang adil dan berkelanjutan, yaitu Keadilan Pembangunan, yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan melindungi hak asasi kita.

Tentang APWLD

Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD) adalah sebuah jaringan organisasi hak perempuan dan aktivis akar rumput di seluruh Asia Pasifik. Kami memiliki 235 anggota yang mewakilkan perempuan dari 27 negara di Asia Pasifik. Selama 32 tahun, APWLD telah bekerja dengan aktif untuk memperjuangkan hak perempuan dan Keadilan Pembangunan. Kami adalah organisasi independen, non-pemerintah, non-profit dan memiliki status konsultatif dengan Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Facebook: apwld.ngo  Twitter:@apwld, Instagram: apwld_

Untuk pertanyaan pers, wawancara dan informasi lainnya, silakan hubungi

Neha Gupta

neha@apwld.org

+62-813-3702-8069/+66 95-528-2396

Bahasa: Bahasa Inggris, Hindi

 

Andita Listyarini

andita@apwld.org

+62-813-1725-4384/+66-826-859 263

Bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia